Project Based Learning atau Metode Pembelajaran Berbasis Proyek
PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Metode Pembelajaran Berbasis Proyek
Project based learning atau pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Siswa secara konstruktif melakukan pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis proyek dan pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan (Grant, 2013)
Program pendidikan berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang kompleks sehingga membutuhkan banyak pihak sebagai jaringan dalam pelaksanaanya hal ini ditandaskan oleh Miura dalam pembahasan penyelidikanya tentang pembelajaran berbasis proyek (Miura, 2015)
1.2 Kemunculan dan Perkembangan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek
Project Based Learning (PjBL) diawali pada tahun 1970an. Pembelajaran berbasis proyek pada sekolah menengah berasal dari bidang teknik di Universitas Aalborg and Roskilde Denmark. Menurut Morgan (1983), pembelajaran ini bukan hanya sekedar metode pembelajaran teknik, tetapi merupakan desain kurikulum yang dapat menimbulkan pertanyaan mendasar tentang hakekat dari sekolah menengah. Teori psikologi pendidikan yang mendasari berkembangnya pembelajaran berbasis proyek dikemukakan oleh John Dewey (1964) bahwa pentingnya pembelajaran yang berasal dari pengalaman; Bruner yang mengungkapkan bahwa belajar sebagai proses aktif dimana siswa mentransformasi informasi sehingga menimbulkan motivasi, retensi, dan pengembangan pribadi, serta didukung penelitian sejenis lainya sperti Carl Rogers (1902) tentang teori belajar humanistik, Lewin (1980) tentang pembelajaran dalam kelompok, dan beberapa peneliti lainya (Mayasari, dkk 2016).
Kemunculan pembelajaran berbasis proyek sebagai bentuk manifestasi perkembangan peradaban, teknologi dan kebutuhan manusia. Dalam pemenuhan kebutuhan dan pemberdayaan teknologi hingga perkembangannya menjadi sebuah masalah tersendiri bagi generasi berikutnya jika tidak dibekali sejak dini, maka diperlukan antisipasi berupa pelatihan yang komperhensif dan kontekstual dalam pendidikan pada dunia nyata seperti sekarang ini. Dibutuhkan sebuah strategi dan pendekatan yang mampu memfasilitasi hal tersebut di atas, seperti yang dekemukakan oleh Ramírez bahwa pendekatan pembelajaran berbasis project difokuskan untuk mempersiapkan siswa siap bekerja di industri. Ramírez menuturkan bahwa kami memberikan pengetahuan kepada siswa kami sebelum mereka
berpartisipasi dalam proyek nyata, dan sebagai panduan untuk memberikan
pelatihan proyek kepada siswa pada topik tertentu (Ramírez et. al, 2016).
PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Metode Pembelajaran Berbasis proyek
Ketika kita berbicara tentang proyek berorientasi perusahaan, maka pelajar bertindak sebagai pelaku organisasi, dalam hal ini menurut Garvin, ada unsur-unsur tertentu hadir dalamnya seperti:
- Metode sistematis untuk menghadapi masalah.
- Kemampuan untuk belajar dari klien.
- Keinginan untuk memperkenalkan praktek-praktek terbaik dari sektor lain.
- Kemampuan untuk mentransfer pengetahuan dalam organisasi, cepat dan efektif.
- Kemampuan untuk menganalisis pengalaman masa lalu.
- Semangat untuk belajar dengan melakukan percobaan (Cano et. al, 1999).
Terkait dengan pembelajaran berbasis proyek disampaikan juga oleh Hugerat bahwa lima kriteria utama untuk metode pembelajaran disebut berbasis proyek:
- Pembelajaran berbasis proyek, fokus utama pembelajaran adalah proyek.
- Pembelajaran proyek berfokus pada pertanyaan atau masalah yang dihadapi siswa dan berkaitan dengan prinsip-prinsip disiplin ilmu.
- Proyek melibatkan siswa dalam penyelidikan yang konstruktif.
- Proyek mendorong siswa ke tingkat yang khusus, dan realistis, tidak sekedar pelajaran sekolah biasa (Hugerat, 2016).
Dijelaskan dalam tulisan Khoirunisa(2015) bahwa Karakteristik pembelajaran berbasis proyek memiliki karakteristik yang membedakan model yang lain. Karakteristik tersebut, antara lain:
Aspek penilaian pembelajaran proyek mencakup pencapaian keterampilan siswa yang profesional. Sebagai bagian dari studi kuantitatif, dua instrumen yang dikembangkan untuk mengevaluasi pertumbuhan profesional para mahasiswa pada pembelajaran proyek. Pertama, instrumen pengembangan profesional, yang berfokus pada kemampuan profesional individu. Kedua, tim pengembangan instrumen profesional, mengidentifikasi keyakinan siswa tentang pentingnya, pengembangan profesional dan tingkat kinerja mereka saat ini dalam konteks sebagai anggota tim. (Johnson et. al, 2014)
2.2 Langkah –Langkah Implementasi Metode Pembelajaran Berbasis Proyek
Rancangan penbelajaran berbasis proyek berdasarkan pendapat Doppelt yang tahapan-tahapan PJBL untuk mendesain proses berpikir kreatif terdiri dari enam tahap, yaitu sebagai berikut:
Dikuatkan dalam khoirunisa bahwa Langkah langkah PJBL sebagaimana yang dikembangkan oleh The George Lucas Educational Foundation (2005) terdiri dari:
Langkah-langkah tersebut di atas tentunya memiliki alasan yang kuat dan dapat kita jabarkan sebagai berikut: Penentuan Pertanyaan Mendasar yaitu pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan kepada siswa dalam melakukan suatu aktivitas. Hal ini dilakukan untuk menggiring siswa pada naluri keingin tahuan, sehingga ada unsur motifasi pada diri mereka dan harapanya menjadi sikap tanggung jawab pada pekerjaan.
Topik penugasan sesuai dengan dunia nyata yang relevan untuk siswa. dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Hal ini tidak lepas dari pembahasan literatur, atau sumber informasi sebagai bahan serta pembimbing dalam proses pembelajaran. Mendesain Perencanaan Proyek yakni perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan siswa. Dengan demikian siswa diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. menjalin komunikasi dua arah dan menimbulkan nuansa kekeluargaan antara guru dan siswa.
Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat didapatkan untuk membantu penyelesaian proyek.
Menyusun Jadwal, guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek, aktivitas pada tahap ini yaitu: membuat timeline dan deadline (alokasi waktu awal dan akhir) untuk menyelesaikan proyek. Hal ini disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang diberikan, diupayakan seproposional mungkin tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat. Membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru. Perlunya pengenalan cara yang baru yang lebih efiseien dan diupayak lebih mudah dilakukan.
Membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek. Sangat dibutuhkan pengawasan dan bimbingan sehingga tidak salah kaprah dan akhirnya pekerjaan menjadi lebih cepat diselesaikan. Meminta peserta didik untuk membuat penjelasan atau alasan tentang pemilihan suatu cara. Hal ini dilakukan agar peserta didik manyadari dengan apa yang dilakukanya.
Memonitor siswa dan kemajuan proyek, guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek. Karena guru adalah penggung jawab semua aktifitas pembelajaran di kelas. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi siswa pada setiap proses. Guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas siswa. Melakukan monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
Menguji hasil penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing siswa, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai siswa, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. Mengevaluasi pengalaman pada akhir pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu ataupun kelompok.
2.3 Metode Pembelajaran Berbasis Proyek pada Pelajaran Fisika
- Proyek menjadi pusat dalam pembelajaran.
- Proyek difokuskan pada pertanyaan atau masalah yang mengarahkan siswa untuk mencari penyelesaian dengan konsep atau prinsip ilmu pengetahuan yang sesuai.
- Penyelidikan konstruktif pada pembelajaram ber siswa membangun pengetahuannya dengan melakukan investigasi secara mandiri (guru sebagai fasilitator).
- Pemecahan permasalahan melalui pembelajaran berbasis proyek, berbasis pada siswa.
- Realisme kegiatan siswa difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan kerja nyata dan menghasilkan sikap profesional.
Aspek penilaian pembelajaran proyek mencakup pencapaian keterampilan siswa yang profesional. Sebagai bagian dari studi kuantitatif, dua instrumen yang dikembangkan untuk mengevaluasi pertumbuhan profesional para mahasiswa pada pembelajaran proyek. Pertama, instrumen pengembangan profesional, yang berfokus pada kemampuan profesional individu. Kedua, tim pengembangan instrumen profesional, mengidentifikasi keyakinan siswa tentang pentingnya, pengembangan profesional dan tingkat kinerja mereka saat ini dalam konteks sebagai anggota tim. (Johnson et. al, 2014)
2.2 Langkah –Langkah Implementasi Metode Pembelajaran Berbasis Proyek
Rancangan penbelajaran berbasis proyek berdasarkan pendapat Doppelt yang tahapan-tahapan PJBL untuk mendesain proses berpikir kreatif terdiri dari enam tahap, yaitu sebagai berikut:
- Tujuan desain (Design Purpose)
- Aspek inkuiri (Field Inquiry)
- Alternatif pemecahan masalah (Solution Alternatives)
- Memilih solusi yang tepat (Choosing the Preffered Solution)
- Tahap pelaksanaan (Operation)
- Evaluasi (Evaluation)
Dikuatkan dalam khoirunisa bahwa Langkah langkah PJBL sebagaimana yang dikembangkan oleh The George Lucas Educational Foundation (2005) terdiri dari:
- Penentuan Pertanyaan Mendasar
- Mendesain Perencanaan Proyek
- Aktivitas
- Memonitor siswa dan kemajuan proyek.
- Menguji hasil penilaian
- Mengevaluasi pengalaman pada akhir pembelajaran
Langkah-langkah tersebut di atas tentunya memiliki alasan yang kuat dan dapat kita jabarkan sebagai berikut: Penentuan Pertanyaan Mendasar yaitu pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan kepada siswa dalam melakukan suatu aktivitas. Hal ini dilakukan untuk menggiring siswa pada naluri keingin tahuan, sehingga ada unsur motifasi pada diri mereka dan harapanya menjadi sikap tanggung jawab pada pekerjaan.
Topik penugasan sesuai dengan dunia nyata yang relevan untuk siswa. dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Hal ini tidak lepas dari pembahasan literatur, atau sumber informasi sebagai bahan serta pembimbing dalam proses pembelajaran. Mendesain Perencanaan Proyek yakni perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan siswa. Dengan demikian siswa diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. menjalin komunikasi dua arah dan menimbulkan nuansa kekeluargaan antara guru dan siswa.
Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat didapatkan untuk membantu penyelesaian proyek.
Menyusun Jadwal, guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek, aktivitas pada tahap ini yaitu: membuat timeline dan deadline (alokasi waktu awal dan akhir) untuk menyelesaikan proyek. Hal ini disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang diberikan, diupayakan seproposional mungkin tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat. Membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru. Perlunya pengenalan cara yang baru yang lebih efiseien dan diupayak lebih mudah dilakukan.
Membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek. Sangat dibutuhkan pengawasan dan bimbingan sehingga tidak salah kaprah dan akhirnya pekerjaan menjadi lebih cepat diselesaikan. Meminta peserta didik untuk membuat penjelasan atau alasan tentang pemilihan suatu cara. Hal ini dilakukan agar peserta didik manyadari dengan apa yang dilakukanya.
Memonitor siswa dan kemajuan proyek, guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek. Karena guru adalah penggung jawab semua aktifitas pembelajaran di kelas. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi siswa pada setiap proses. Guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas siswa. Melakukan monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
Menguji hasil penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing siswa, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai siswa, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. Mengevaluasi pengalaman pada akhir pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu ataupun kelompok.
2.3 Metode Pembelajaran Berbasis Proyek pada Pelajaran Fisika
Dua pengalaman dijelaskan dalam kaitannya dengan penggunaan simulasi sebagai alat pelatihan dan bereksperimen baik dalam lingkungan akademik ataupun industri (Cano et. al, 2015). Senada dengan ungkapan Ramirez bahwa dalam pmbelajaran proyek menyajikan pengalaman kami bekerja dengan mahasiswa dalam proyek-proyek nyata bekerjasama akademi-industri (Ramírez et. al, 2016). Sementara itu Collier memberi keyakinan bahwa model pembelajaran proyek akan memastikan ketersediaan akses teknologi yang mendukung dan fasilitas kemitraan yang dapat menyebabkan kemitraan di masa yang akan datang (Collier et. al, 2015).
Kegiatan proyek meliputi pengukuran dan metrik, perkiraan, analisis resiko, jadwal, pelacakan dan kontrol (Garcia et. al, 2014). Kompetensi atau kemampuan yang dapat diukur dengan menggunakan penilaian performa meliputi: (1) kemampuan melakukan prosedur; (2) kemampuan menciptakan suatu produk; (3) kombinasi kemampuan melakukan prosedur dan menciptakan produk (Agus dkk, 2014).
Pembelajaran sains berbasis teori belajar konstruktivistik bercirikan belajar: Keterlibatan siswa (engagement); penggalian pengetahuan (exploration); penjelasan (explanation); penjabaran (elaboration); dan penilaian (assessment). Dalam aktivitas pembelajaran sains berbasis teori belajar konstruktivistik penilaian hasil belajar menekankan pada “performa“ siswa dalam mengintegrasikan pengetahuan-fenomena alam ( Purnama dkk, 2014).
2.3.1 Penilaian Produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu tahap persiapan, tahap pembuatan dan tahap penilaian. Teknik penilaian terdiri atas dua cara yaitu cara holistik dan cara analitik (Nisak, 2016). Pada penjabaran lebih jauh maka dapat dipaparkan dalam beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Tahapan pembelajaran berbasis proyek
- Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.
- Tahap pembuatan produk, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
- Tahap penilaian produk, meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.
Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik.
- Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk
- Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan.
Pembelajaran berbasis proyek dalam pembelajaran IPA dipandang dapat mengembangkan sikap ilmiah. Model pembelajaran berbasis proyek penekanannya terletak pada aktivitas peserta didik untuk memecahkan masalah dengan mernerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, hingga mempresentasikanm produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata (Alawiyah & Sopandi, 2016)
Kami menilai bagaimana siswa kami dapatkan menetapkan kompetensi yang disarankan oleh Rekayasa Perangkat Lunak Pengetahuan standar pendidikan, memiliki hasil yang menggembirakan untuk program sarjana Teknik Komputer (Ramírez et. al, 2016)
Hasil penilaian siswa pada pembelajaran berbasis proyek menunjukkan peningkatan dalam keterampilan komunikasi teknis serta tingkat kepuasan yang tinggi (Mandow et. al, 2015). Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi untuk membangun dan mempertahankan komunitas peserta didik dan menginspirasi siswa untuk mempertimbangkan karir di bidang sains, teknik, dan masyarakat dan lingkungan kesehatan (Collier et.al, 2015).
Pendekatan untuk mengajar dan belajar manajemen proyek merupakan kegaitan praktis untuk memberikan pengalaman menerapkan konsep teoritis yang menunjukkan bahwa:
a) organisasi dan pendidikan lembaga yang bergerak menuju pendekatan pelatihan yang menekankan keterlibatan aktif peserta.
b) ada peningkatan minat dalam memahami bagaimana individu terlibat dalam pengalaman pelatihan mempengaruhi individu belajar (Garcia et. al, 2015)
Kecenderungan dari studi awal menunjukkan pembelajaran berbasis proyek berdampak positif pada pencapaian kompetensi siswa profesional jika dibandingkan dengan pembelajaran tradisional (Johnson et. al, 2014).
Dalam mengembangkan proyek dan mengusulkan solusi yang berkelanjutan diperlukan fitur-fitur unik tentu saja kami meliputi: (1) campuran layanan dan proyek belajar dengan instruktur fakultas
bermitra dengan staf teknik kampus untuk membantu dengan mentoring proyek tim, pengumpulan data, kunjungan lapangan lokal, dan studi kasus; (2) program pendidikan formal penilaian melalui pre dan post-kelas survei dan Fokus mahasiswa wawancara kelompok; (3) instruktur mingguan pertemuan yang terdiri dari dosen, mengajar asisten, administrator departemen dan staf teknik memperbarui kursus selama semester dan perencanaan perubahan besar untuk kursus target berikutnya (Roesler1 et. al, 2015).
2.5 Efektifitas Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek
Melalui kegiatan instruksi, praktek individu, dan interaksi anttar siswa, akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan kerja secara efektif. Pembelajaran berbasis proyek dapat membimbing siswa dalam penelitian seperti mencari referensi untuk membuat presentasi hasil proyek (Mandow et. al, 2015). Maka pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi dalam memberikan kompetensi menyeluruh pada siswa secara elektif.
2.6 Keunggulan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek
Setiap implementasi pembelajaran tentunya memilki kelemahan dan kelabihan seperti pada paparan berikut:
2.6.1 Keunggulan Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran berbasis proyek (PJBL) sangat menjadikan siswa penuh dengan kegiatan praktik (Iis Alawiyah & Wahyu Sopandi, 2016). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis proyek merasakan suasana pembelajaran yang memuaskan dan menyenangkan (Hugerat, 2016). Pengalaman PJBL secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan rekayasa siswa (Johnson et. al, 2014). Selain itu pembelajaran proyek dapat memberikan kemampuan penguasaan materi dan ketrampilan yang dapat digunakan untuk memenuhi syarat masuk industrik kerja(Jazayeri, 2015).
Hasil penenlitian menunjukkan bahwa model PJBL ini memiliki
dampak postive pada pencapaian kompetensi Johnson (2014). Johnson mengemukakan beberapa keunggulan yang dapat diperoleh dari penggunaan penilaian performa yaitu:
- Dapat mengukur aspek kemampuan yang bersifat nyata, misalnya kemampuan melakukan dan menulis laporan eksperimen.
- Bersifat lebih alami, langsung dan lengkap dalam mengukur kemampuan siswa.
- Berguna sebagai alat penilaian terhadap siswa yang memiliki keterbatasan dalam menulis dan membaca.
- Dapat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam melakukan tugas pada situasi yang sesungguhnya.
2.6.2 Kelemehan Pembelajaran Berbasis Proyek
Dalam pembelajaran lingkungan akademik sulit untuk mereproduksi sebauh karya seperti halnya di industri, hal ini adalah salah satu kelemahan pembelajarn ini (Ramírez et. al, 2016), selain itu stertegi ini cenderung dibutuhkan lebih lama.
Beberapa kelemahan pembelajaran berbasis proyek yang diungkap dalam Prabowo bahwa:
- Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
- Membutuhkan biaya yang cukup banyak
- Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional.
- Banyak peralatan yang harus disediakan.
- Peserta didik yang mempunyai kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
- Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
- Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.
KESIMPULAN
Berdasarkan kajian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan pendekatan ketrampilan bekerja melakukan proses pembelajaran dengan tujuan menyelesaikan permasalahn yang berbobot, nyata, dan relevan. Kegiatan pembelajaran proyek meliputi beberapa hal diantaranya pengukuran dan numerik, perkiraan, analisis resiko, jadwal, pelacakan dan kontrol yang dapat diukur dengan menggunakan penilaian performa meliputi: (1) kemampuan melakukan prosedur; (2) kemampuan menciptakan suatu. Rancangan penbelajaran berbasis proyek memiliki tahapan-tahapan sebagai berikut: tahap tujuan ,tahap inkuiri, tahap pemecahan masalah dengan pemilihan solusi yang tepat, tahap pelaksanaan atau proses dan evaluasi. Pada pengembangananya pembelajaran PJBL meliputi 3 (tiga) tahap meliputi: tahap penilaian kemampuan peserta didik dalam menggali pertanyaan, mengembangkan gagasan, dan mendesain produk; tahap pembuatan produk atau proses meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik; tahap penilaian produk (appraisal) meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.
Keunggulan strategi PJBL ini memiliki proses instruksi, praktek individu, dan interaksi, sehingga dinilai efektif dalam memperoleh pengetahuan dan ketrampilan bagi siswa. Keuntungan lainya ialah memberi pengalaman secara signifikan dalam meningkatkan kemampuan rekayasa siswa. Adapun kelamahan pada pembelajaran berbasis proyek yaitu memerlukan banyak waktu relatif lebih lama dibandingkan jenis pembelajaran lainnya. Selain itu pembelajaran proyek membutuhkan biaya yang relatif lebih banyak serta Banyak peralatan yang harus disediakan.
Tantangan yang perlu dihadapai untuk implementasi pembelajaran proyek ini adalah masing banyak instruktur atau guru yang merasa nyaman dengan pengajaran konvensional, peserta didik yang mempunyai kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan, ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok, ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik se cara keseluruhan. Tantangan ini tentunya perlu diantisipasi dan ditumbangkan atau diminimalkan dengan cara-cara yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
- Grant, M.M. 2013. Definitions and Uses: Case Study of Teachers Imple menting Projec t-based Learning. Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. Vol 7. Issue 3.no2.
- Alawiyah, I & Sopandi, W. 2016. Pembelajaran berbasis proyek Untuk meningkatkan sikap ilmiah siswa sekolah dasar pada materi peristiwa alam. Prosiding seminar nasional inovasi pendidikan inovasi pembelajaran berbasis karakter dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean. http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/snip. Dikutip 12 desember 2016.
- Cano, J.L, Saenz, M J, Cebollada, J.A. 1999. Project management interactive learning and project oriented learning organizations. ci maria de luna, 3 - 50015 zaragoza (spain). K. Mertins et al. (eds.), Global Production Management © Springer Science+Business Media New York. Global Production Management. Volume 24 of the series IFIP — The International Federation for Information Processing pp 85-95.
- Hugerat, M. 2016. How teaching science using project-based learning strategies affects the classroom learning environment. Learning Environments Research October, Volume 19, Issue 3, pp 383–395
- Jazayeri, M. 2015. Combining mastery learning with project-based learning in a first programming course. an experience report university of lugano. https://www.researchgate.net/publication/282155341_Combining_Mastery_Learning_with_Project. Dikutip 12 desember 2016
- Roesler, J, Littleton, P, Schmidt, A, Schideman, L, Johnston, M, Mestre, J, Herman, G, Mena, I, Gates, E, Morphew, J, Liu, L, 2015. Campus integrated project-based learning course in civil and environmental engineering. https://iwe.pure.elsevier.com/en/publications/campus-integrated-project-based-learning-course-in-civil-and-envi. Dikutip 12 desember 2016
- Miura. M, 2015. Project based learning with multi-agent simulation in liberal arts education. 3rd international conference on applied computing and information technology. 2nd international conference on computational science and intelligence. http://dl.acm.org/citation.cfm.id.2848985&picked.prox. Dikutip 12 desember 2016.
- Ramírez, R.J, Jiménez, S, Huertas, C, 2016. Developing software engineering competences in undergraduate students: project-based learning approach in academy-industry collaboration. 4th international conference in software engineering research and innovation. https://www.computer.org/csdl/proceedings/conisoft/2016/1074/00/1074a141. pdf. Dikutip 12 desember 2016.
- Mandow, A., Jorge, L., Mart´ınez, and Cerezo, A.G., 2015. Project-based learning of scientific writing and communication skills for postgraduate students. Universidad de m´alaga, andaluc´ıa tech, dpto. Ingenier´ıa de sistemas. https://riuma.uma.es/xmlui/bitstream/handle/10630/8314/FIE_2014_PBL_Scientific_writing_Communication_skills_Postgraduate_students.pdf. Dikutip 12 desember 2016.
- Collier, A., Knight, D., Hafich, K., Hannigan, M., Polmear,M., and Graves, B., 2015. On the development and implementation of a project-based learning curriculum for air quality in k-12 schools. www.redes.unb.br/lasp/files/events/FIE.../1570251271.pdf. Dikutip 12 desember 2016.
- Krithivasan S., Shandilya S, Lala K., Arya K, 2013. Massive project based learning through a competition impact of and insights from the e-yantra robotics competition (eyrc - 2013). IEE sixth international conference on technology for education. October 22-25, Madrid, Spain. www.mmmut.ac.in/News_content/14453news_08202016.pd. Dikutip 12 desember 2016.
- Johnson,B., Ulsethet,R., Smith, C., Fox, D., 2014. Professional competency attainment in a project based learning curriculum a comparison of project based learning to traditional engineering education. http://ieeexplore.ieee.org/document/7344028. Dikutip 12 Desember 2016.
- Purnama, D.A., Benny A. dan Pribadi, 2014. Penilaian performa dalam pembelajaran sains. Pascasarjana teknologi pendidikan universitas negeri jakarta. Jurnal Pendidikan, Volume 15, Nomor 1; 22-30
- Garcia, R.E., Messias Correia, R.C., J´unior, C.O., Brandi, A.C, Prates, J.M., 2015. Teaching and Learning Software Project Management: a hands-on approach. https://pdfs.semanticscholar.org/d54f/688a525c77fd28a963a8c6909b5066fca457.pdf. DIkutip 12 desember 2016
- Nisak, S., 2016. Menganalisis contoh kd dengan menggunakan metode pembelajaran problem based learning dan project based learning dan unsur-unsur di dalamnya. http://anispbsi.blogspot.co.id/2016/10/pbl-dan-pjbl.html. Dikutip 12 Desember.
- Prabowo, C. T., 2015. Pengaruh metode pembelajaran Project based learning terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran las lanjut kelas xi jurusan teknik pemesinan smk muhammadiyah prambanan. Skripsi Program studi endidikan teknik mesin fakultas teknik univers itas negeri yogykarta. https://core.ac.uk/download/pdf/33527245.pdf. Dikutip 12 desember 2016.

Komentar
Posting Komentar