Pembelajaran Fisika Berbasis Proyek Sebagai Upaya Peningkatan Keterampilan Hidup Dan Berkarir Siswa SMK
Pembelajaran fisika berbasis proyek TTG rancang bangun pompa air garam tenaga angin bagi siswa Teknik Pemesinan SMK Tunas Harapan Pati. Sebagai bekal ketrampilan hidup dan berkakarir siswa dalam meningaktakan kompetensi persiapan kerja dan antisipasi pemutusan hubungan kerja. Pembelajaran berbasis proyek dilakukan dalam tujuh tahap yakni yakni tahap pendahuluan dan penugasan, tahap observasi dan perencanaan disain, persiapan kerja, poses produksi, presentasi produk, penilaian produk, tahap pelaporan. Pembelajaran fisika berbasis proyek TTG dapat meningkatkan ketrampilan hidup dan berkarir siswa dengan nilai rata-rata aspek Fkelsibilitas dan adaptsi adalah 95,63, dengan N-gain 0,48, nilai rata-rata aspek inisiatif dan mengetur diri adalah 75,31, dengan N-gain 0,28, nilai rata-rata aspek interaksi sosial-budaya adalah 86, 25 dengan N-gain 0,32, nilai rata-rata aspek produktifitas dan akuntabilitas adalah 86,88 dengan N-gain 0,36, Nilai rata-rata aspek kepemimpinan dan tanggung jawab adalah 88,75 dengan N-gain 0,31. Nilai rata-rata ketrampilan hidup dan berkarir setelah pembelajaran proyek adalah 86,56 dengan N-gain 0,32 tergolong katagori sedang. Pembelajaran fisika berbasis proyek TTG dapat menampilkan profil sikap ilmiah yang baik berdasarkan nilai keterbukaan peserta didik 93,13, N-Gain 3,37, nilai objektifitas peserta didik 88,13 dengan N-Gain 0,28, nilai rata-rata ketelitian peserta didik 74,38 dengan peningkatan 0,13, nilai rata-rata kedisiplinan peserta didik 93,13 dengan N-Gain 0,51, nilai rata-rata kerjasama peserta didik 94,69 dengan N-Gain 0,59. Nilai rata-rata sikap ilmiah siswa setelah pembelajaran proyek adalah 82,69 dengan N-gain 0,32 tergolong katagori sedang. Nilai rata-rata untuk nilai kognitif sebelum kegaitan proyek adalah 71,5 setelah kegaitan proyek 77,8 dengan N-gain 0,23 masih tergolong rendah, namun ketuntasan klasikal tercapai 87. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran fisika berbasis proyek TTG dilaksanakan melalui tujuh tahapan yakni tahap pendahuluan dan penugasan, tahap observasi dan perencanaan disain, persiapan kerja, poses produksi, presentasi produk, penilaian produk, tahap evaluasi & pelaporan. Pembelajaran fisika berbasis proyek TTG rancang bangun pompa air garam tenaga angin dapat meningkatkan keterampilan hidup & berkarir, sikap ilmiah, dan pengetahuan siswa.
PENDAHULUAN
Tantangan nyata dalam pendidikan abad 21 adalah bahwa pendidikan hendaknya mampu menghasilkan sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi utuh. Seperti yang dinyatakan oleh Murti (2013) bahwa di Abad ke 21 ini pendidikan menjadi semakin penting untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi, dapat bekerja, dan bertahan dengan menggunakan keterampilan untuk hidup. Kompetensi pada abad 21 ini secara komperhensip dikemukakan oleh Ttrilling & Fadel (2009) bahwa adanya beberapa karakteristik penting kehidupan atau kekuatan baru pada abad 21. Yunus (2016) menyatakan bahwa kekuatan pertama abad 21 adalah pengetahuan untuk bekerja, kemampuan berfikir, gaya hidup digital, dan penelitian pembelajaran. Serangkaian tuntutan pendidikan di Abad 21 ini menunjukkan bahwa sekolah merupakan tumpuan perkembangan peradaban serta tumpuan modal penghidupan masyarakat. Persentase keterserapan kerja bagi tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi salah satu sorotan keberhasilan lembaga pendidikan tersebut. Siswa sebagai calon pekerja industri harus memiliki kesiapan untuk bekerja agar ia memiliki kompetensi dalam pekerjaannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Riya (2013) bahwa ada pengaruh positif antara kompetensi kerja dan motivasi kerja terhadap kesiapan kerja. Setiap SMK memiliki Bursa Kerja Kusus (BKK) sebagai sarana penyalur tenaga kerja lulusan SMK. Lailatul (2015) menyatakan bahwa BKK sebagai Sarana Pemenuhan Tenaga Kerja Program Keahlian SMK. Berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) 2008-2009 tercatat bahwa penyerapan tenaga kerja didominasi oleh lulusan SMK namun demikian pada laporan yang sama dikatakan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk pendidikan SMK masih mendominasi dari tahun ke tahun (BPS, 2009). TPT tahun 2016 sebesar 5,50% (https://www.bps.go.id). Pengangguran di Indonesia per Februari 2016 adalah 7,02 juta pengangguran terbanyak adalah lulusan SMK (http://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis, 2016). Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT untuk lulusan SMK menempati posisi tertinggi dibandingkan dengan yang lainnya Hapsari (2016). Artinya TPT untuk pendidikan SMK masih mendominasi dari tahun ke tahun. Berkaca sedikit pada pendidikan SMK di Eropa melalui wawancara dengan Lugas, salah satu mahasiswa S2 Belanda pada tanggal 21 November 2016, ia menyatakan bahwa lulusan SMK langsung terdistribusi pada perusahaan. Hal senada juga diungkap oleh Adam Pamma seorang pengurus Senior Experten Service (SIS) of German pada pertengahan oktober 2016. Hal tersebut menunjukan bahwa lulusan SMK di luar negeri memiliki peluang besar untuk memasuki dunia kerja.
Kesenjangan antara lulusan SMK dalam negeri dan luar negeri dalam hal keterserapan kerja di Industri menjadi motivasi untuk terus berupaya meningkatkan kompetensi siswa SMK. Pemerintah telah melakukan upaya penanggulangan masalah di atas, tiga konsep pendidikan abad 21 telah diadaptasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan digulirkanya kurikulum 2013 bagi sekolah dasar dan menengah. Zubaidah (2016) menyatakan bahwa literasi sains secara global sangat rendah. Rendahnya kemampuan literasi sains peserta didik merupakan suatu alasan yang melandasi pemerintah melakukan revisi kurikum 2006 ke 2013.
Kurikulum 2013 telah dilaksanakan oleh sebagian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melalui pendekatan saintific dengan tiga konsep tujuan yaitu adalah 21st Century Skills, scientific approach, dan authentic assesment (Murti, 2013). Pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang mempersiapkan generasi penerus menjadi generasi yang memiliki kemampuan kecakapan abad 21. Setidaknya ada empat kecakapan yang harus dimiliki oleh generasi abad 21 yaitu ways of thingking, ways of working, tools for working and dan skills for living in the word
(Prayitno, 2009). Titik berat kurikulum 2013 adalah bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, dan mengkomunikasikan (Kurniasih & Sani, 2013). Artinya dalam proses pembelajaran harus dikemas sedemikian rupa agar dapat memfasilitasi siswa untuk dapat melakukan observasi, bertanya, dan berkomunikasi dengan orang lain di lingkungannya.
SMK Tunas Harapan Pati adalah salah satu lembaga pendidikan menengah yang menyiapkan tenaga trampil, terdiri atas 8 kompetensi keahlain yakni: Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Teknik Pemesinsn (TPM), Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Kimia Analis (KA), Teknik Pertelvisisn dan Radio, Teknik Pengelasan, Multi Media (MM), dan Teknik Otomasi Industri (TOI). Sekolah ini melaksanakan pola pembelajaran moving class, dengan standarisasi sistem menejemen mutu ISO 19001: 2015, serta menejemen lingkungan ISO 14001: 2015.
Kurikulum yang dipakai di SMK Tunas Harapan Pati adalah kurikulum 2013. Implementasi pengembangan silabus dan RPP yang telah ditentukan serta dilengkapi dengan perangkat penilaian dan atribut lainya. Dalam panduan kurikulum 2013 menempatkan mata pelajaran fisika dalam kelompok peminatan (C) ditujukan untuk mencapai kompetensi life and career skills. Kelompok mata pelajaran wajib (A) ditujukan untuk mencapai kompetensi learning and inovation skills dan technology and information media skills (Murti, 2013). Mata pelajaran fisika termasuk dalam kelompok materi yang ditujukan untuk mencapai kompetensi life and career skills.
Prayitno (2009) menyatakan bahwa tujuan penguasaan kompetensi ketrampilan hidup dan berkarir pada diri siswa yang terdiri atas fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi, inisiatif dan kemandirian, kecakapan lintas budaya, produktivitas dan akuntabilitas, kepemimpinan dan tanggung jawab. Pandangan lain tentang ketrampilan abad 21. Zubaidah (2016) meyatakan bahwa Change Leader ship Group dari Universitas Harvard mengidentifikasi kompetensi dan keterampilan bertahan hidup yang diperlukan oleh siswa dalam menghadapi kehidupan, dunia kerja, dan kewarganegaraan di Abad ke-21 ditekankan pada tujuh (7) keterampilan berikut: (1) kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, (2) kolaborasi dan kepemimpinan, (3) ketangkasan dan kemampuan beradaptasi, (4) inisiatif dan berjiwa entrepeneur,(5) mampu berkomunikasi efektif baik secara oral maupun tertulis, (6) mampu mengakses dan menganalisis informasi, dan (7) memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi. US-based Apollo Education Group mengidentifikasi sepuluh (10) keterampilan yang diperlukan oleh siswa untuk bekerja di Abad ke-21, yaitu keterampilan berpikir kritis, komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, produktifitas dan akuntabilitas, inovasi, kewarganegaraan global, kemampuan dan jiwa entrepreneurship, serta kemampuan untuk mengakses, menganalisis, dan mensintesis informasi.
Kompetensi tersebut perlu ditanamkan pada diri siswa sehingga dapat menjawab permasalahan yang dikemukanan di atas. Semua kompetensi tersebut dapat diwujudkan melalui implementasi kurikulum 2013 yakni pendekatan saintific dengan metoda belajar berbasis proyek atau yang lebih dikenal dengan Project Based Learning (PJBL). Tahapan-tahapan pada pembelajaran proyek selaras dengan kompetensi kebutuhan siswa pada abad 21. Mengingat hal tersebut maka penelitian ini mengusung tema pembelajaran fisika berbasis proyek dalam upaya peningkatan ketrampilan hidup dan berkarir. Titik berat penelitian ini adalah guna menumbuhkan kemampuan ketrampilan hidup dan berkarir siswa SMK.
SMK Tunas Harapan Pati memiliki BKK yang memfasilitasi informasi dan mempersiapkan siswa pada dunia kerja atau industri. Catatan pada BKK SMK Tunas Harapan Pati (2016) bahwa keterserapan kerja siswa lulusan SMK Tunas Harapan Pati dalam 5 tahun terakhir tidak lebih dari 75,52%. Beberapa faktor penyebebnya antara lain belum cukup usia, dan belum siap mental. Saat wawancara dengan Masitah seorang konsultan recruitmen tenaga kerja PT Toyota Motor Manufacturing Indonesiapada tanggal 30 maret tahun 2016, ia menyatakan bahwa siswa lulusan SMK sebagai calon oprator mesin industri, dibutuhkan ketrampilan dan kesiapan mental dalam menghadapi dunia kerja. Industri tidak mengenal tawar-menawar dalam tugas dan pekerjaan. Disampaikan pula beberapa persyaratan calon pekerja seperti usia, nilai ijazah, kompetensi keahlian, keaktifan berkomunikasi, disiplin, motivasi tinggi, terbangun mindeset untuk bekerja sejak dini, dan kesiapan mental. Keadaan ini menjadi masalah bagi sebagian siswa pelamar sehingga mereka tidak lolos dalam seleksi kerja. Masalah lain yang menjadi beban sekolah adalah kebijakan industri dalam hal pemutusan kontrak kerja. Kontrak pekerjaan bagi karyawan baru tamatan SMK adalah maksimal 2 tahun, sehingga terkadang menjadi keluhan para orang tua terhadap sekolah.
Permasalahan tersebut membutuhkan sebuah strategi pembelajaran yang memungkinkan dan meyakinkan pada penguasaan ketrampilan hidup dan berkarir bagi siswa. Sebagai langkah menghadapi tantangan persaingan kerja juga sebagai langkah antisipasif pada pasca pemutusan kontrak kerja dari industri. Ketrampilan hidup dan berkarir melalui pembelajaran fisika berbasisi proyek Teknologi Tepat Guna (TTG) harapanya dapat dicapai dengan baik. Proyek TTG ini dirancang dan dilakukan oleh siswa sehingga mereka mendapat pengalaman nyata dalam dunia kerja. Hugerat (2016) menyatakan bahwa melibatkan siswa dalam proyek dapat mendorong siswa ke tingkat yang khusus dan realistis, tidak sekedar pelajaran sekolah, tetapi berfokus pada masalah yang dihadapi siswa dan berkaitan dengan prinsip-prinsip disiplin ilmu. Siswa diajarkan untuk terjun langsung dalam dunia nyata, berperan dalam masyarakat untuk menemukan masalah dan penyelesaiannya, sehingga mereka dapat membangun pola berfikir yang konstruktif.
Pembelajaran proyek TTG ini memotivasi siswa untuk melakukan pencarian informasi dan fokus pada tujuan proyek seperti pernyataan Grant (2013) bahwa pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Siswa melakukan pembelajaran proyek menyelesaikan permasalahan yang muncul bersifat nyata, dan relevan. Pembelajaran proyek sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan keterampilan hidup dan berkarir bagi siswa sesuai dengan program keahlian masing-masing. Maka dari itu perlu proses pembelajaran yang konstriktif dan metoda yang tepat sehingga memliliki peluang besar untuk mengantarkan siswa pada penguasaan keterampilan hidup dan berkarir di abad 21 ini. Dinyatakan oleh Mayasari (2016) bahwa Problem based learning dan project based learning merupakan model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme dan telah dilaporkan mampu melatihkan keterampilan abad 21 kepada peserta didik. Kompetansi abad 21 mencakup kemampuan siswa dalam hal kerja sama dengan orang lain. Arnyana (2006) menyatakan bahwa pada abad pengetahuan, yaitu abad 21, diperlukan sumber daya manusia dengan kualitas tinggi yang memiliki keahlian, yaitu mampu bekerja sama, berpikir tingkat tinggi, kreatif, terampil, memahami berbagai budaya, mampu berkomunikasi, dan mampu belajar sepanjang hayat.
Desain pembelajaran yang nyata yang memberi peran kepada siswa sebagaimana seseorang yang telah bekerja pada sebuah industri atau berperan pada masyarakat. Dikuatkan juga dalam pernyataan Ramirez (2016) bahwa pendekatan pembelajaran berbasis proyek difokuskan dalam mempersiapkan siswa untuk bekerja di industri, selain memberikan pengetahuan kepada siswa sebelum mereka partisipasi dalam proyek nyata, juga sebagai panduan untuk memberikan pelatihan kepada siswa selama proyek pada topik tertentu.
Salah satu upaya untuk mencapai kompeensi ketrampilan hidup dan berkarir adalah pembelajaran berbasis proyek TTG. Siswa SMK perlu malakukan proyek TTG sebagai tugas akhir sekaligus sebagai bahan uji komprehensip siswa di akhir pembelajaran fisika. TTG ini disesuaikan dengan kelas kompetensi keahlian siswa dan bernilai kearifan lokal, agar dapat dirasakan oleh masyarakat sekitarnya. Harapanya TTG ini dapat menjadi jembatan kemitraan antara siswa dengan industry. Collier et al (2015) menyatakan bahwa pembelajaran proyek dapat menyebabkan kemitraan pada masa yang akan datang.
Salah satu faktor pengaruh dalam produktivitas tenaga kerja antara lain kesesuaian pendidikan, kemampuan kerja dan disiplinan (Tanto, 2012). Di sisi lain kompetensi sikap terkait dengan keterbukaan, objektifitas, teliti, kerjasama, disiplin dan tanggung jawab merupakan kemampuan sikap ilmiah (Rusiowati, 2014). Maka dari itu keterampilan abad 21 memiliki keterkaitan dengan sikap ilmiah. Meskipun demikian perlu menelusuri sejauh mana pembelajaran fisika berbasis proyek TTG ini dapat meningkatkan sikap ilmiah siswa. Emalfida, dkk (2016) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis PJBL dapat meningkatkan sikap ilmiah peserta didik. Namun demikian profil sikap ilmiah apa saja yang dapat dimunculkan dalam pembelajaran proyek TTG ini perlu ditelusuri lebih jauh, dan harapanya agar pembahasan hubungan keduanya akan menjadi lebih komperhensip. Selain aspek ketrampilan dan sikap ilmiah pembelajaran yang diterapkan perlu meningkatkan kemampuan kognitif siswa agar hasil belajar dapat dirasakan secara menyeluruh atau holistik. Metode pembelajaran PJBL memiliki kemampuan dalam meningkatkan kemempuan kognitif. Hikmaningsih, dkk (2015) menyatakan bahwa penerapan model Project Based Learning dapat meningkatkan kemampuan kognitif tingkat tinggi pada mata pelajaran fisika.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diartikan bahwa pembelajaran berbasis proyek diharapkan dapat memberi kompetensi sisiwa dalam hal kesiapan bekerja di dunia industri. Cano (2015) menyatakan bahwa ada dua pengalaman pembelejaran PJBL yakni sebagai alat pelatihan dan bereksperimen baik dalam lingkungan akademik dan industri. Pembelajaran berbasis proyek TTG diharapkan dapat mewujudkan kegiatan pembelajaran dengan pengalaman nyata. Ramirez (2016) menyatakan bahwa dalam pmbelajaran proyek menyajikan pengalaman nyata, dalam bentuk bekerjasama antara sekolah dengan industri. Dikuatkan dalam pernyataan Mayasari (2016) bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membekali keterampilan-keterampilan abad 21 kepada peserta didik melalui proses belajar mengajar yang meraka dapatkan di bangku sekolah.
Berdasarakan pemahaman tersebut maka impelemntasi PJBL pada mata pelajaran fisika di sekolah SMK tunas harapan pati perlu dilakukan. Gagasan ini dituangkan dalam tesis dengan judul “Pembelajaran fisika berbasis proyek sebagai upaya peningkatan ketrampilan hidup dan berkarir siswa SMK”. Tema dalam tesis ini adalah Proyek TTG Pompa Air Tenaga Angin bagi masyarakat petambak garam. Rencana penelitian dilakukan pada kelas XI TPM SMK Tunas Harapan Pati. Dipilihnya siswa XI SMK Tunas Harapan Pati sebagai subyek penelitian ini dengan alasan bahwa sepanjang pengetahuan penulis belum ada peneliti yang melakukan penelitian yang sama di sekolah tersebut.
a. Identifikasi masalah
Berdasarkan paparan di atas bahwa angka pengangguran pada tahun 2016 didominasi oleh alumni SMK. Keterserapan lulusan SMK ke dunia kerja masih di bawah dari negara-negara maju. Prsetasi belajar kognitif belum mencapai ketuntasan secara klasikal. Keterserapan tenaga kerja ke industri belum mencapai 100% dengan salah satu faktor penyebab siswa belum siap secara mental dan ketrampilan, kebijakan pemutusan hubungan kerja perusahaan hanya 2 tahun setelah itu siswa harus mencari tempat kerja baru. Maka dari itu dibutuhkan sebuah upaya peningkatan ketrampilan hidup dan berkarir siswa guna menyiapkan tenaga trampil dan siap menghadapi tantangan persaingan dalam dunia kerja dan atau kesiapan berwirausaha bagi siswa.
b. Rumusan masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan dan pengaruh PJBL pada tema Teknologi Tepat Guna (TTG) bagi masyarakat petambak garam, yang dilaksanakan pada siswa kelas XI TPM 4 SMK Tunas Harapan Pati, Masalah ini dirinci dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut: (1) Bagamana implementasi PJBL pada pembelajaran fisika siswa SMK kelas XI TPM 4 dengan tugas proyek TTG bagi masyarakat petambak garam (2) Bagaimana peningkatan keterampilan hidup dan berkarir siswa setelah diterapkan PJBL pada pembelajaran fisika siswa SMK kelas XI TPM 4 dengan tugas proyek TTG bagi masyarakat petambak garam (3) Bagaimana kmemampuan kognitif siswa setelah menggunakan PJBL pada pembelajaran fisika siswa SMK kelas XI TPM 4 dengan tugas proyek Tekonolgi Tepat Guna (TTG) bagi masyarakat petambak garam (4) Bagaimana profil sikap ilmiah siswa setelah menggunakan pembelajaran metode PJBL pada pembelajaran fisika siswa SMK kelas XI TPM 4 dengan tugas proyek TTG bagi masyarakat petambak garam?.
c. Penegasan istilah
Teknologi Tepat Guna (TTG)
Teknologi Tepat Guna (TTG) merupakan salah satu tuntutan tugas akhir siswa kompetensi pemesinan, yakni sebuah rekayasa teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. TTG yang dipilih pada penelitian ini adalah Pompa Air Tenaga Angin. Pompa Air Tenaga Angin merupakan alat pompa air yang digunakan para masyarakat pertambakan untuk memindahkan air sungai ke lahan tambak. Prinsip kerja alat ini mengguakan beberapa kompetensi dasar konsep fisika di SMK, diantaranya adalah konsep fluida, getaran, dan dinamika rotasi. Pompa ini mengandalkan tenaga angin di sekitar tambak. Keberadaannya sangat diperlukan bagi masyarakat petambak garam dan merupakan salah satu komponen pokok bagi petani tambak dalam proses menghasilkan garam.
Project Based Learning (PJBL)
Pembelajaran berbasis proyek atau dikenal sebagai Project based learning (PJBL) atau pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Siswa secara konstruktif melakukan pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan (Grant, 2013). PJBL memeiliki karakter yang tepat dalam pembelajaran fisika, kontekstual, nyata, dan berbasis pada proses. Hal senada dinyatakan dalam Hikmaningsih, dkk (2015) bahwa PjBL ini sangat cocok dilaksanakan dalam pembelajaran Fisika karena melalui proyek ini siswa mampu terlibat secara mental dan fisik, termasuk kecakapan sosial dengan mengkonstruksikan pengetahuan berdasarkan pengalaman sendiri melalui tindakan dalam proyek.
Pelajaran Fisika SMK
Fisika merupakan mata pelajaran yang mengkaji tentang peristiwa-peristiwa alam, adapun pokok bahasan yang diambil adalah kombinasi dari beberapa pokok bahasan yang telah diterima siswa selama belajar. Prinsip kerja Pompa Air Tenaga Angin ini meliputi beberapa pokok bahasan yakni pada sistem baling-baling terkait pokok bahasan dinamika rotasi. Pada sistem tabung pompa air terkait pokok bahasan fluida. Pada sistem batang penghubung terkait dengan pokok bahasan getaran, serta pada sistem pengereman terkait dengan konsep hukum newton.
Semua pokok bahasan telah diberikan pada siswa pada semester 1-3, maka dalam pembelajaran ini merupakan kolaborasi pokok bahasan fisika yang disajikan secara integrasi melalui pembelajaran fisika berbasis proyek ini.
d. Tujuan penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah telah dikemukakan sebelumnya, tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui apakah implementasi PJBL pada tema proyek TTG bagi masyarakat petambak garam dapat meningkatkan ketrampilan hidup dan berkarir siswa kelas XI TPM 4 SMK Tunas Harapan Pati? (2) Untuk mengetahui apakah implementasi PJBL dapat meningkatkan hasil belajar Fisika pada siswa kelas XI TPM 4 SMK Tunas Harapan Pati?
e. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk:
a. Metode Penelitian
Teknologi Tepat Guna (TTG)
Teknologi Tepat Guna (TTG) merupakan salah satu tuntutan tugas akhir siswa kompetensi pemesinan, yakni sebuah rekayasa teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. TTG yang dipilih pada penelitian ini adalah Pompa Air Tenaga Angin. Pompa Air Tenaga Angin merupakan alat pompa air yang digunakan para masyarakat pertambakan untuk memindahkan air sungai ke lahan tambak. Prinsip kerja alat ini mengguakan beberapa kompetensi dasar konsep fisika di SMK, diantaranya adalah konsep fluida, getaran, dan dinamika rotasi. Pompa ini mengandalkan tenaga angin di sekitar tambak. Keberadaannya sangat diperlukan bagi masyarakat petambak garam dan merupakan salah satu komponen pokok bagi petani tambak dalam proses menghasilkan garam.
Project Based Learning (PJBL)
Pembelajaran berbasis proyek atau dikenal sebagai Project based learning (PJBL) atau pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Siswa secara konstruktif melakukan pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan (Grant, 2013). PJBL memeiliki karakter yang tepat dalam pembelajaran fisika, kontekstual, nyata, dan berbasis pada proses. Hal senada dinyatakan dalam Hikmaningsih, dkk (2015) bahwa PjBL ini sangat cocok dilaksanakan dalam pembelajaran Fisika karena melalui proyek ini siswa mampu terlibat secara mental dan fisik, termasuk kecakapan sosial dengan mengkonstruksikan pengetahuan berdasarkan pengalaman sendiri melalui tindakan dalam proyek.
Pelajaran Fisika SMK
Fisika merupakan mata pelajaran yang mengkaji tentang peristiwa-peristiwa alam, adapun pokok bahasan yang diambil adalah kombinasi dari beberapa pokok bahasan yang telah diterima siswa selama belajar. Prinsip kerja Pompa Air Tenaga Angin ini meliputi beberapa pokok bahasan yakni pada sistem baling-baling terkait pokok bahasan dinamika rotasi. Pada sistem tabung pompa air terkait pokok bahasan fluida. Pada sistem batang penghubung terkait dengan pokok bahasan getaran, serta pada sistem pengereman terkait dengan konsep hukum newton.
Semua pokok bahasan telah diberikan pada siswa pada semester 1-3, maka dalam pembelajaran ini merupakan kolaborasi pokok bahasan fisika yang disajikan secara integrasi melalui pembelajaran fisika berbasis proyek ini.
d. Tujuan penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah telah dikemukakan sebelumnya, tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui apakah implementasi PJBL pada tema proyek TTG bagi masyarakat petambak garam dapat meningkatkan ketrampilan hidup dan berkarir siswa kelas XI TPM 4 SMK Tunas Harapan Pati? (2) Untuk mengetahui apakah implementasi PJBL dapat meningkatkan hasil belajar Fisika pada siswa kelas XI TPM 4 SMK Tunas Harapan Pati?
e. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk:
- Memberi informasi kepada guru fisika dalm menentukan metode mengajar yang tepat, efektif dan efisien yang dapat diterapkan di SMK.
- Bagi guru dapat memberikan gambaran nyata tentang proses pembelajaran fisika melalui kegiatan proyek Pompa Air Tenaga Angin bagi masyarakat petambak garam.
- Bagi siswa kegiatan PJBL ini dapat menjadi sarana yang efektif untuk mendapat pengalaman bekerja Proyek TTG Pompa Air Tenaga Angin bagi masyarakat petambak garam.
METODE PENELITIAN
![]() |
| Alur penelitian peningkatan ketrampilan hidup & berkarir. |
Tempat dan waktu penelitian penelitian ilaksanakan di SMK Tunas Harapan Pati tahun ajaran semester genap 2016/2017, subyek penelitian adalah siswa kelas XI Teknik Pemesinan (TPM) 4 SMK Tunas Harapan Pati semester 4 (genap) yang berjumlah 40 siswa. Semua peserta berjeneis kelamin laki-laki.
Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah
- Ketuntasan belajar ketrampilan hidup berkarir secara klasikal beserta peningkatannya diukur dengan angket, observasi, dan interviu.
- Ketuntasan belajar kognitif secara klasikal beserta peningkatannya diukur dengan tes objektif,
- Sikap ilmiah siswa diukur melalui lembar angket, dan observasi.
Desain penelitian menggunakan Pretest-Posttest Group Design, dimana perbedaan pencapaian sebelum dan sesudah kegiatan proyek kelompok eksperimen dibandingkan (Astuti, dkk, 2012).
![]() |
| Pretest-Posttest Group Design |
O1 : Nilai Pretes
O2 : Nilai Postes
X : Penerapan PJBL Pembelajaran fisika dalam tema TTG Pompa air garam tenaga angin
Setelah didapatkan nilai awal dan akhir dari semua ranah baik psikomotorik, kognitif dan afektif maka data di analisis peningkatannya menggunakan formula Gain, serta dianalisis dengan uji t untuk menentukan signifikasi peningkatannya harga t hitung di bandingkan dengan harga t pada tabel. Jika t hitung lebih besar dari harga pada t tabel maka peningkatan tergolong signifikan begitupun sebaliknya, jika t hitung lebih kecil dari harga t pada tabel maka peningkatan tergolong tidak signifikan.
Teknik Pengambilan Data
Penelitian ini mengumpulkan data dengan mencatat peristiwa melalui lembar observasi dan angket. Angket yang digunakan meliputi angket ketrampilan hidup dan berkarir yang dinilai oleh diri siswa, angket ketrampilan hidup dan berkarir yang dinilai teman, angket penilaian sikap ilmiah yang dinilai oleh diri siswa, angket penilaian sikap ilmiah yang dinilai oleh diri siswa serta angkat kepuasan belajar.
Selain itu beberapa nilai yang dilakukan meliputi nilai laporan observasi lapangan yang dilakukan oleh siswa, nilai disain gambar alat proyek TTG pompa air garam tenaga angin, nilai produk alat pompa air garam. Sebagai data penguat dilakukan pula wawancara langsung oleh guru pada siswa. Masing-masing data diolah dan dianalisis sesuai dengan berdasarkan rujukan dan kriteria yang relevan.
Jenis Data Hasil Penelitian
Data dalam penelitian ini berupa data tes objektif dan non tes. Data tes pretes dan postes. Data non tes meliputi data angket, laporan observasi, observasi ketrempilan dan sikap, data wawancara, data nilai diisain gambar alat proyek, nilai produk hasil kerja proyek, dan laporan. Data observasi ketrampilan hidup dan berkarir merupakan penilaian performa dari setiap siswa. Seperti pernyataan Purnama, dkk (2014) bahwa kemampuan yang dapat diukur dengan menggunakan penilaian performa meliputi: (1) kemampuan melakukan prosedur; (2) kemampuan menciptakan suatu produk; (3) kombinasi kemampuan melakukan prosedur dalam menciptakan produk.
Beberapa tenik peneilaian dalam proyek dikemukakan oleh Sofyan (2006) antara lain: checklist observasi, portofolio, pekerjaan rumah, dan peneialan diri sendiri atau teman sejawat.
Pengambilan Data yakni (a) Tes Objektif, data hasil tes untuk mengukur penguasaan materi, dan penguasaan ketrampilan berkarir data ini didapatkan dari pretes dan postes, dan hasilnya dikomparasikan untuk mendapatkan nilai gain dan uji t beserta peningkatnnya. (b) Angket atau kuesioner, angket dalam penelitian ini terdiri dari berisi pertanyaan-pertanyaan tertulis yang digunakan untuk mendapatkan informasi atau laporan tentang observer. Angket dalam penelitian ini terdiri atas angket ketrampilan dan angket sikap. Angket ketrampilan berisi pertanyaan terkait ketrampilan hidup dan berkarir, sementara angket sikap berisi pertanyaan terkait sikap ilmiah. Adapun jenis angket ini merupakan angket langsung dan tidak langsung, angket langsung yaitu responden menjawab tentang dirinya angket tidak langsung yaitu responden menjawab tentang orang lain atau siswa menilai temannya (Arikunto S, 98:129).
Angket diberikan pada sebelum dan setelah kegiatan proyek. (c) Observasi, lembar pengamatan atau observasi dilakukan oleh guru dalam melakukan penilaian kerja, penilain produk TTG Pompa Air Tenaga Angin. Observasi dilakukan selama proses belajar atau setiap tatap muka. Hasil penilaian lembar observasi ini merupakan nilai psikomotorik, dan afektif siswa. Skor ketrampilan hidup dan berkarir dari masing-masing siswa adalah jumlah skor yang diperoleh sesuai dengan banyaknya deskriptor yang tampak pada saat melakukan kerja proyek. (d) Wawancara, dilakukan dengan tanya jawab secara langsung terhadap pihak – pihak yang terkait untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan perkembangan ketrampilan kerja dan akrir siswa. Dalam melaksanakanya dibantu dengan menggunakan daftar pertanyaan yang sudah disusun secara sistematis. Data yang didapatkan dari interviu terpimpin melalui lembar berisi pertanyaan yang telah dirancang sebelumnya (Arukunto, 1989), dilengkapi dengan kolom ceklis dan kolom penjelasan atas jawaban siswa. (e) Dokumentasi dilakukan dengan menyimpan/mendokumentasikan kegiatan – kegiatan yang dilakukan dalam pengumpulan data dan perlengkapan yang dibutuhkan. Seperti aktivitas proses pengerjaan proyek, baik saat observasi lapangan, identivikasi, dan proses kerja, hingga penilaian produk.(f) Penilaian disain, penilaian produk ini dilakukan setelah peserta didik menggambar disain alat proyek yang akan dibuat, penilaian dilakukan oleh tim independen yakni guru teknik pemesinan. Indikator penilaian mencakup akurasi ukuran, kelengkapan jenis ukuran, dan estetika. (g) Penilaian Produk, Penilaian dilakukan setelah peserta didik selesai mengerjakan proyek, penilaian dilakukan oleh tim independen yang terdiri atas guru dan dosen. Indikator penilaian mencakup bahan yang digunakan, fungsi kerja alat, estetika. Rusilowati (2014). Disampikan dalam Sofyan (2006) bahwa penilaian produk dilakukan dengan mengobservasi beberapa hal daintaranya adalah hasil kerja, tugas-tugas non tes yang diselesaikan, laporan proyek, dan fortopolio.
Hasil Penelitian
Hasil pembelajaran fisika berbasis proyek TTG dijelaskan pada empat segi berdasarkan rumusan masalah yakni implementasi PJBL, Peningkatan ketrampilan hidup dan berkarir, profil sikap ilmiah, dan kemampuan kognitif.
a. Implementasi PJBL
Pembelajaran berbasis proyek dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu tahap pendahuluan, tahap observasi dan perencanaan, tahap persiapan kerja, tahap produksi dan presentasi, tahap penilaian produk, dan tahap pelaporan. Tahapan ini sesuai dengan pernyataan Sofyan (2006) bahwa dalam pembelajaran proyek menggunakan model produksi pertama-tama peserta didik menetepkan tujuan untuk pembautan produk akhir, dan mengidentifikasi objek proyek mereka, kemudian mereka mengkaji topik yang mereka pilih, mendisain, dan membuat perncanaan menejemen proyek, kemudian memulai proyek, memecahkan masalah yang timbul, dan menyelesaikan produk mereka.
Tahap pertama yakni penahuluan diawali dengan penyampaian tujuan proyek penugasan penyusuran informasi mandalam mengenai produk dan pembentukan kelompok. Seperti dalam pernyataan Nisak (2016) bahwa pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan kepada siswa dalam melakukan suatu aktivitas. Penugasan proyek dilakukan berkelompok besar A dan B, yang masing-masing kelompok bertugas membuat TTG pompa air tenaga angin dengan tipe baling-baling horizontal dan vertikal.
Tahap ke-dua adalah siswa melakuakn observasi dan perencanaan, pada tahap ini siswa melakukan investigasi ke lingkungan pertambakan yakni di Desa Tluwuk dan Desa Agung Mulyo untuk mencari informasi terkait produk TTG yang akan dibuat. Setelah mereka mendpatkan informasi lalu menggambar disain alat dan menentukan dan menyiapkan bahan dan alat yang digunakan.
Tahap ke-tiga yakni tahap persiapan produkasi, pada tahap ini guru menyampaikan ketentuan jadwal dan batas waktu pembuatan alat. Waktu yang dijadwalkan adalah 3 pertemuan. Pada tahap ini disampaikan juga mengenai ketentuan menggunakan alat-alat kerja seperti pemakaian baju praktek dan keselamatan kerja, serta menyampaikan teknis observasi antar teman. Seperti pernyataan Nisa (2016) bahwa aktivitas pada tahap ke-tiga ini antara lain membuat timeline (alokasi waktu) untuk menyelesaikan proyek, membuat deadline (batas waktu akhir) penyelesaian proyek.
Tahap ke-empat yakni tahap produksi alat TTG, siswa yang tergabung dalam kelompok pertama melakukan praktek dan kelompok lain melakukan observasi. Observasi dilakukan oleh guru dan siswa melalui angket observasi antar teman guna merekam seluruh aktifitas siswa dalam praktek. Sesuai dengan pernyataan Nisa (2016) bahwa monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi siswa pada setiap proses dan agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting. Proses produksi kelompok A adalah satu pertemuan, dan pertemuan berikutnya adalah kelompok B. Pada hari ke tiga kedua kelompok melakukan penyelesaian pembuatan dan merangkai produk.
Tahap ke-lima adalah presentasi, pada tahap ini masing-masing kelompok melalui perwakilannya melakukan presentasi produk. Masing-masing menjelaskan terkait bahan, bentuk, ukuran komponen produk dan fungsinya. Presentasi dilakukan secara oral dan disaksikan oleh semua siswa. Pada ujung presentasi ini guru dan siswa melakukan diskusi terkait alat yang telah dibuat siswa.
Tahap ke-enam adalah penilaian produk yang telah dihasilakn oleh siswa, penilaian dilakukan oleh beberapa pakar sain seperti guru teknik pemesinan dan guru fisika dan dosen. Penilaian dilakukan secara objektif menggunakan angket yang telah disediakan oleh peneliti terkaiat uji kelayakan produk. Tahap ini sesuai dengan pernyataan Nisa (2016) bahwa menguji hasil (Assess the Outcome) penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar.
Tahap ke-tujuh adalah evaluasi dan penyusunan laporan, pada tahap ini guru melakukan evaluasi pembelajaran secara keseluruhan, melakukan umpan balik pada siswa melalui angket keluasan belajar. hal ini sesuai dengan pernyataan Nisa (2016) bahwa mengevaluasi pengalaman (Evaluate the Experience) pada akhir pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Setelah semua kegaian selasai siswa diminta membuat dan menyusun laporan proyek tersebut.
![]() |
Grafik nilai rata-rata sikap ilmiah |
80, sebelum kegiatan adalah 26 orang (65%), setelah kegiatan menjadi 35 orang (90%). (3) Jumlah siswa yang cukup kompeten karena memiliki niali 80
N
75, sebelum kegiatan proyek adalah 10 orang (25%). Setelah kegiatan proyek menjadi 5 orang (12,5%). (4) Jumlah siswa yang tidak kompeten kerena mendapat nilai <75, sebelum kegiatan 4 orang (10 %), setelah kegiatan proyek menjadi tidak ada (0 %). (5) Untuk profil pengingkatan tiap sub aspek ketrampilan hidup dan berkarir siswa pada masing-masing aspek yakni: Aspek felksibilitas dan adaptabilitas sebelum pembelajaran proyek mendapatkan nilai rata-rata 91,56. Setelah pembelajaran proyek didapatkan nilai rata-rata 95,62, dengan nilai N-gain 0,48 termasuk dalam kategori tinggi. Aspek Inisiatif dan dapat mengatur diri sebelum pembelajaran proyek mendapatkan nilai rata-rata 65,93. Setelah pembelajaran proyek didapatkan nilai rata-rata 75,31, dengan nilai N-gain 0,28 masih tergolong dalam kategori rendah.
Aspek Interaksi sosial sebelum pembelajaran proyek mendapatkan nilai rata-rata 79,68. Setelah pembelajaran proyek didapatkan nilai rata-rata 86,25, dengan nilai N-gain 0,32 termasuk dalam kategori sedang.
Aspek produktifitas dan akuntabilitas sebelum pembelajaran proyek mendapatkan nilai rata-rata 79,37. Setelah pembelajaran proyek didapatkan nilai rata-rata 86,87, dengan nilai N-gain 0,36 termasuk dalam kategori sedang.
Aspek kepemimpinan dan tanggungjawab sebelum pembelajaran proyek mendapatkan nilai rata-rata 83,75. Setelah pembelajaran proyek didapatkan nilai rata-rata 88,75, dengan nilai Ngain 0,31 termasuk dalam kategori sedang.
Rata-rata nilai keterampilan hidup dan berkarir sebelum pembelajaran proyek adalah 80,06. Setelah pembelajarn proyek didapatkan nilat rata-rata 86,56 dengan nilai N-gain 0,32 termasuk dalam kategori sedang
Untuk analisis signifikasi peningkatan menggunakan uji t didapat bahwa Ho ditolak apabila t > t(1-a)(n1-1), berdasarkan hasil analisis didapatkan t hitung sebesar 7,57. Harga ttabel pada α = 5% dengan dk = 40 - 1 = 39 diperoleh t(0.95)(39) = 1,68. Hasil penghitungan menunjukkan harga t > ttabel, maka Ho ditolak
Karena t berada pada daerah penolakan Ho, maka dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan yang signifikan tentang nilai sikap siswa.
Aspek Kognitif
Peningkatan nilai kognitif sebelum dan setelah kegiatan proyek Berikut ini merupakan peningkatan hasil belajar kognitif siswa sebelum dan setelah kegiatan pembelajaran proyek, dengan batas nilai bawah kriteria baik adalah 75 sebelum dilakukan kegiatan proyek didapatkan hasil seperti pada Gambar 4.1, menyatakan bahwa: (1) Nilai rata-rata untuk nilai kognitif sebelum kegaitan proyek adalah 71,25 setelah kegaitan proyek 77,88. (2) Jumlah siswa belum mencapai ketuntsan belajar pada aspek kognitif karena mendapat nilai <75, sebelum kegiatan 18 orang (45%), setelah kegiatan proyek hanya tersisa 5 orang atau (13%). (3) Untuk peningkatan nilai pengetahuan siswa sebelum dan sesudah pembelajaran proyek menunjukan N-gain 0,23 termasuk dalam katagori sedang. (4) Untuk analisis uji t didapat bahwa Ho ditolak apabila t > t(1-a)(n1-1), berdasarkan hasil analisis didapatkan harga hitung 8,18. Harga ttabel pada α = 5% dengan dk = 40 - 1 = 39 diperoleh t(0.95)(39) = 1,68. Hasil perhitungan menunjukkan harga t > ttabel maka Ho ditolak. Karena t berada pada daerah penolakan Ho, maka dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan nilai kognitif siswa sebelum dan setelah pembelajaran proyek signifikan
![]() |
| Grafik nilai rata-rata sikap ilmiah |
80, sebelum kegiatan adalah 2 orang (5%), setelah kegiatan menjadi 16 orang (40%) sehingga ada peningkatan 35 %. (3) Jumlah siswa yang memiliki kriteria baik karena memiliki niali 80
N
70, sebelum kegiatan proyek adalah 35 orang (87,5%). Setelah kegiatan proyek menjadi 24 orang (60 %). Mengalami perbaikan sebesar 27,5 %. (4) Jumlah siswa yang memiliki kriteria kurang pada aspek sikap kerena mendapat nilai <70, sebelum kegiatan 3 orang (7,5%), setelah kegiatan proyek menjadi tidak ada (0%). (5) Untuk profil pengingkatan nilai tiap sub aspek sikap ilmiah siswa pada masing-masing aspek yakni: Aspek keterbukaan sebelum pembelajaran proyek mendapatkan nilai rata-rata 89,06. Setelah pembelajaran proyek didapatkan nilai rata-rata 93,13, dengan nilai N-gain 3,37 termasuk dalam kategori sedang. Aspek objektifitas sebelum pembelajaran proyek mendapatkan nilai rata-rata 83,44. Setelah pembelajaran proyek didapatkan nilai rata-rata 88,13, dengan nilai N-gain 0,28 termasuk dalam kategori rendah. Aspek Ketelitian sebelum pembelajaran proyek mendapatkan nilai rata-rata 70,63. Setelah pembelajaran proyek didapatkan nilai rata-rata 74,38, dengan nilai N-gain 0,13 termasuk dalam kategori rendah. Aspek kedisiplinan sebelum pembelajaran proyek mendapatkan nilai rata-rata 85,94. Setelah pembelajaran proyek didapatkan nilai rata-rata 93,13, dengan nilai N-gain 0,51 termasuk dalam kategori sedang. Untuk analisis signifikasi peningkatan menggunakan uji t didapat bahwa Ho ditolak apabila t > t(1-a)(n1-1), berdasarkan hasil analisis didapatkan t hitung sebesar 5,23. Harga ttabel pada α = 5% dengan dk = 40 - 1 = 39 diperoleh t(0.95)(39) = 1,68. Hasil penghitungan menunjukkan harga t > ttabel, maka Ho ditolak. Karena t berada pada daerah penolakan Ho, maka dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan yang signifikan tentang nilai sikap siswa.
PEMBAHASAN
a. Pembahasan tentang peningkatan ketrampilan hidup dan berkarir
Pembelajaran fisika berbasis proyek teknologi tepat guna (TTG) dapat meningkatkan ketrampilan hidup dan berkarir siswa selama pembelajarn fisika berbasir proyek TTG dapat digambarkan dalam diagram.
![]() |
Diagram tahapan kegiatan proyek dan nilai ketrampilan yang dikembangkan. |
Aspek kemampuan fleksibilitas dan adaptabilitas pada dinamisasi keadaan, bertindak fkesibel dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan keadaan yang berbeda dan tetap fokus pada tujuan disaat terjadi dilema ambiguitas pada lingkungannya. Melalui kegiatan observasi siswa melakukan pembelajaran dengan gaya yang berbeda, biasanya siswa hanya belejar di ruang kelas atau di lingkungan sekolah saja, namun dalam kegiatan observasi ini akan menggiring siswa melakukan gaya belajar yang baru. Hal ini dinyatakan oleh Citrannissa (2015) bahwa terdapat kontribusi gaya belajar terhadap hasil belajar. Bebrapa indikator dalam aspek ini yaitu kemampuan siswa beradaptasi pada lingkungan yang berbeda. Kemampuan siswa dalam beradaptasi ini dipengaruhi oleh pengetahuan siswa seperti dikemukakan dalam Tambunan (2010) bahwa kognisi sebagai salah satu aspek dalam diri manusia berfungsi pada adaptasi seseorang terhadap lingkungan yaitu bagaimana seseorang mengatasi lingkungan serta mengorganisasikan pikiran dan tindakannya, sehingga pengetahuan siswa sangat menentuakan kempuan beradaptasi. Ketrampilan abad 21 dinyatakan dalam Zubaidah (2016) bahwa beberapa ketrampilan di ke-21 yang diidentifikasi oleh Change Leader ship Group dari Universitas Harvard adalah kolaborasi dan kepemimpinan, ketangkasan dan kemampuan beradaptasi, inisiatif dan berjiwa entrepeneur, Indikator kemampuan adaptasi ini muncul pada saat siswa melakukan observasi dan investigasi lapangan, menemui narasumber terkait dengan informasi data dan fakta menganai alat pompa air tenaga angin yang akan dibuat oleh siswa. Siswa terjun langsung ke masyarakat dan mencari tahu sendiri keberadaan alat dan menentukan siapa warga atau masyarakat yang dapat dijadikan narasumber yang tepat. Menilai usahanya secara proaktif dan penghargaannya terhadap pengalaman demi kepentingannya tertentu menilai bagaimana ia menggali sesuatu yang baru dan tidak biasa Costa & McCrae 1985;1990;1992 dalam (Pervin & John, 2001).
Siswa melakukan wawancara pada warga setempat dengan bahasa yang baik dan bisa saling dimengerti. Hal ini menunjukan bahwa siswa telah melakukan adaptasi baik terhadap lingkungan, bahasa, dan cara belajar mencari pengatahuan secara langsung. Observasi ini memerlukan feksibilitas tinggi karena siswa harus menyesuiakan diri dengan keadaan narasumber dalam hal penentuan waktu, dialek bahasa, dan budaya lingkungan setempat. Interviu dilakukan dengan beberapa peteni tambak pemilik pompa air garam, siswa melakukan pertanyaan pada narasumber dengan pertanyaan yang telah mereka susun dengan tujuan mengidentifikasi jenis bahan, bentuk, ukuran dan hal-hal lain terkait fungsi alat dan biaya pembuatannya. Berdasarkan hasil pengamatan dan dokumentasi didapatkan bahwa siswa telah berhasil melakukan observasi secara berkelompok ke desa tluwuk dan agung mulyo. Mereka mendapatkan informasi dan data terkait alat pompa air tenaga angin yang selama ini digunakan masyarakat melalui interviu tertulis. Sementara kemampuan dalam hal kerjasama siswa dapat diamatai saat melakukan proses produksi alat, proses produksi alat yang dialakukan membutukan kerjasma sesama siswa dalam proses pembuatan dan perakitak alat pompa. Pada proses produksi siswa bekerjasama dalam pembuatan tangkai baling-baling dengan menggunakan mesin las, menyambung tangkai piston dengan bor dan baut, menggerinda merapihkan alat produksi, serta pembuatan kelep pompa. Berdasarkan data pengamatan observasi langsung bahwa siswa dapat melakukan kerjasama baik dalam kelompok dan antar kelompok lain dalam proses pembauatn dan perakitan alat pompa air tenaga angin.
Aspek inisiatif dan kemandirian yakni kemampuan siswa dalam berinisiatif dan mengatur diri dalam menyelesaikan tugas maupun proyek, dapat bekerka secara bebas dan mandiri, memiliki isisiatif dan kritis, mampu menyelesaikan tugas tanpa pemantauan langsung. Ketrampilan abad 21 dinyatakan dalam Zubaidah (2016) bahwa beberapa ketrampilan di ke-21 yang diidentifikasi oleh Change Leader ship Group dari Universitas Harvard adalah inisiatif dan berjiwa entrepreneur. Bebrapa indikator pada aspek ini alalah keaktifan bertanya, mengelola waktu saat mengerjakan tugas, bekerja secara mendiri, menyelesaikan proyek atau menghasilkan produk. Keaktifaan siswa bertanya nampak saat siswa interviu pada narasumber yakni petani tambak garam. Dalam proses penugasan observasi itu sendiri dibebenkan kepada siswa secara mandiri, siswa baik secara kelompok maupun individu dapat melakukan observasi langsung, melakukan janjian waktu dan tempat pertemuan dengan narasumber. Guru hanya bertugas sebagai pemantau, seperti dalam pernyataan Afriana (2017) guru bertanggung jawab untuk memantau kegiatan siswa selama menyelesaikan proyek.
Observasi secara bebas dan mendiri dilakukan agar siswa dapat mengatur diri, berinisiatif mencari dan menemukan masalah beserta solusinya. Kemampuan pengaturan diri siswa dapat dilihat dari kemampuan menyelesaikan tugas disain alat yang dilakukan siswa berdasarkan data observasi mereka. Disain hasil karya siswa dilaporkan pada saat melaporkan hasil observasi, tugas disain diberi rantang waktu 1 minggu, disain yang dibuat siswa dapat berupa tulisan bolpoint, atau menggunakan program komputer. Indikator kemempuan pengeturan diri pada siswa dapat dilihat dari ketercapaian alat produksi TTG ini dibandingkan dengan rentang waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
Rentang waktu yang direncanakan adalah 5 kali pertemuan atau 1 bulan 1 minggu. Dengan rincian pertemuan 1 adalah persiapan, pertemuan 2 adalah pengumpulan disain dan laporan observasi, pertemuan 3 dan 4 adalah proses pengerjaan proyek, dan pertemuan ke 5 adalah proses penilaian produk dan peyusunan laporan.
Tahapan pelaksanaan pembelajaran fisika berbasis proyek TTG yaitu persiapan dan observasi sesuai perencanaan, pengumpulan gambar disain dikumpulkan sesuai waktu yang ditentukan dan rata-rata menggunakan program komputer atas inisiatif siswa sendiri, pelaksanaan proses produksi adalah 3 kali pertemuan dari 2 pertemuan yang diprencanakan, hal ini dapat dimalumi mengingat benda proyek yang dibuat berukuran besar standar dengan alat pompa petani tambak garam. Dilanjutkan pada pertemuan ke 6 yaitu penilaian proyek dan penugasan laporan. Rentang waktu total pembelajaran proyek dilapangan adalah adalah 1 bulan dua minggu. Meskipun ada kemunduran selama 1 minggu hal ini masih dapat ditoleransi mengingat dalam proses pengerjaan diselingi dengan interviu siswa dan dilakukan postes yang menyita waktu, dan yang terpenting adalah alat proyek telah berhasil dibuat dan mendapat nilai yang sempurna.
Aspek ineteraksi sosial dan budaya yang mencakup kemampuan siswa dalam melakukan interaksi sosial baik dengan teman atau dengan masyarakat, mampu membangun konektifitas komunikasi dengan lingkungan masyarakat dan bekerjasama demi suatu tujuan bersama. Seperti yang dinyatakan oleh Zubaidah (2016) bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh OECD didapatkan deskripsi tiga (3) dimensi belajar pada abad ke-21 yaitu informasi, komunikasi, dan etika & pengaruh sosial. Indikator yang pada aspek interaksi sosial ini adalah melakukan observasi di luar sekolah, dapat bertanya dengan narasumber diluar sekolah, mampu menentukan narasumber yang tepat, dapat menggunakan bahasa yang luwes dalam berbicara dengan masyarakat. Indikator kemampuan sisiwa melakukan observasi dibuktikan dengan lembar hasil wawancara atau interviu, serta dokumentasi video wawancara. Pemilihan seorang narasumber dari masyarakat desa tluwuk dan agung mulyo dilakukan secara bebas oleh siswa sendiri. Hasil dari observasi siswa dilapangan yang dibuktikan dengan dokumen tanya jawab tertuis serta dokumen video didapatkan bahwa gaya bahasa tulis yang digunakan siswa dalam bertanya dan tingkahlaku dalam melakukan pertanyaan pada petani tambak garam mencerminkan kemampuan siswa dalam berinteraksi sosial yang cukup baik. Selain itu interaksi sosial siswa dalam kelompok terpantau solid terutama pada saat siswa melakukan proses produksi dan perakitan alat pompa yang membutuhkan banyak personil, meraka saling berbaur dan saling membantu meringankan pekerjaan teman.
Aspek produktifitas dan akuntabilitas meruapakan subaspek keterampilan hidup dan berkarir pada terkait dengan produk dan sejauhmana produk tersebut dapat dipahami tentang bagian-bagian atau komponen alat serta prinsip kerja serta pemanfaatan bagi konsumen atau pengguna. Beberapa indikator yang dapat diamati adalah kemampuan mendisain gambar produk, membuat produk atau alat seperti pada gambar, menjelaskan bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan produk, menjelaskan bagian dan fungsi produk.
Kompetensi ini dapat dilihat dari produk yang dihasilkan, penilaian dilakukan dengan menguji tingkat kelayakan produk yang telah dilakukan oleh beberapa penilai baik dari guru dan dosen. Aspek penilaian produk siswa mencakup aspek bahan yang digunakan, aspek fungsi kerja, dan aspek estetika. Selain itu penggalian produktifitas dan akuntabilitas siswa dilakukan dengan wawancara secara langsung pada saat sisiwa merancang, membuat dan merakit alat proyek. Ketrampilan abad 21 dinyatakan dalam Zubaidah (2016) bahwa beberapa ketrampilan di ke-21 yang diidentifikasi oleh Change Leader ship Group dari Universitas Harvard adalah mampu berkomunikasi efektif baik secara oral maupun tertulis, dan memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi. Hasil pengamatan dan penialian produktifitas dan akuntabilitas siswa pada pembelajaran proyek ini jelas terlihat baik dibuktikan dengan nilai produk adalah 93,75 termasuk dalam kriteria kompeten.
Aspek ke lima dari keterampilan hidup dan berkarir adalah tanggung jawab dan kepemimpinan. Aspek ini terkait pada kompetensi siswa memiliki tanggung jawab, mampu mempengaruhi teman lain demi suatu tujuan bersama, dan siap dipimpin dan memimpin. Ketrampilan abad 21 dinyatakan dalam Zubaidah (2016) bahwa salah satu ketrampilan di ke-21 yang diidentifikasi oleh Change Leader ship Group dari Universitas Harvard adalah kemapuan kolaborasi dan kepemimpinan. Indikator dari sub aspek ini adalah mengatur pembagian tugas teman–teman dalam kelompok banyak bekerja dan tidak banyak berkata-kata, bekerja sesuai tugas, mengutamakan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadi. Dalam pelaksanaan pembelajaran proyek ini masing-masing siswa memiliki tugas sendiri diantaranya adalah membegi kelompok kecil yang terdiri dari 5 orang, masing-masing kelompok ditugasi membuat dan menyusun pertanyaan untuk observasi, melakukan observasi, mendisain gambar komponen, menyaipkan bahan, dan melakukan kerja. Semua kegiatan diserahkan siswa guru hanya membantu dalam hal memfasilitasi alat, melakukan perijinan penggunaan bengkel dan tempat observasi, menyiapkan bahan elektroda las, melakukan pengawasan dan observasi dan penilaian. Sehingga dalam proses pembelajarn proyek ini sebagian besar dipersiapkan dan dilaksanakan oleh siswa. Dikemukakan oleh Mastuti (2013), bahwa orang yang mempunyai skor tinggi cenderung bertanggungjawab, kuat bertahan, tergantung, dan berorientasi pada prestasi.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa pembelajaran fisika berbasis proyek TTG dengan tema rancang bangun Pompa Air garam Tenaga Angin dapat mengembangakan nilai-nilai ketrampilan peserta didik khususnya pada aspek ketrampilan hidup dan berkarir.
b. Pembahasan tentang profil sikap ilmiah
Kompetensi sikap disiplin siswa dengan indikator tepat waktu, tuntas melaksanakan tugas, tertib mengkuti arahan, fokus pada proses. Dalam proses perencanaan siswa melakukan pengaturan diri dalam hal pembagian tugas dan tanggung jawab, mempersiapkan pertanyaan sesuai arahaan guru, dan fokus pada tujuan yakni pada hasil akhir rancang bangun pompa air garam tenaga angin yang telah disampaikan oleh guru pada pertemuan pendahulaun.
Kompetensi sikap jujur siswa dengan indikator, menyampaikan sesuatu berdasarkan keadaan, bersikap terbuka, menyelesaikan tugas secara mandiri, mencantumkan sumber belajar. Berdasarkan hasil pemantauan semala proses pembelajarn proyek TTG ini siswa menjalankan tugas baik saat observasi dan proses produksi alat dilakukan dengan dokumentasi dan pemantauan langsung, sehingga data yang didapatkan sesuai fakta lapangan. Peserta didik tidak segan berkonsultasi dengan guru dan teman jika ada masalah. Maka dapat dikatakan pada kompetensi kejujuran sisiwa dalam proses pembelajaran proyek TTG ini cukup baik.
Kompetensi sikap tanggung jawab siswa dengan indikator, kesediaan mengerjakan tugas, terkomitmen terhadap tugas, tuntas mengerjakan tugas, konsekuen terhadap tindakan. Dalam proses pembelajaran proyek TTG siswa diberi tugas dan tanggung jawab masing-masing, misalnya dalam pembentukan kelompok kecil, melakukan observasi dan menggambar disain alat. Semua tugas tersebut dipasrahkan pada siswa seutuhnya, guru bertugas memfesitasi dan memantau proses pekerjaan mereka dari tahapan satu ke tahapan selanjutnya. Pada kenyataanya siswa dapat memenuhi semua tugas, baik observasi mendisain, dan memproduksi alat sesuai yang ditugaskan. Maka dapat dikatakan kompetensi sikap tanggungjawab siswa baik.
Kompetensi sikap santun siswa dengan indikator berinteraksi dengan teman secara ramah, berkomunikasi dengan bahasa yang tidak menyinggung perasaan, menggunakan bahasa tubuh yang bersahabat, berperilaku sopan. Ketrampilan abad 21 dinyatakan dalam Zubaidah (2016) bahwa beberapa ketrampilan di ke-21 yang diidentifikasi oleh Change Leader ship Group dari Universitas Harvard adalah kemampuan berkomunikasi efektif baik secara oral maupun tertulis, mampu mengakses dan menganalisis informasi, dan memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi.
Dalam proses pembelajaran proyek TTG utamanya pada saat siswa melakukan komunikasi dengan narasumber di lapangan. Terlihat bahwa peserta didik dapat melakukan komunikasi dengan santun dan ramah, beberapa siswa berbicara dengan gaya bahasa jawa kromoinggil. Disisi lain kehadiran siswa ditengah masyarakat peteni tambak diterima dengan baik dibuktikan dengan adanya warga yang bersedia menjadi narasumber bagi peserta didik untuk interviu.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :
Pembelajaran fisika berbasis proyek TTG dilaksanakan melalui tujuh tahapan yakni tahap pendahuluan, tahap observasi dan perencanaan disain, persiapan kerja, poses produksi, presentasi produk, penilaian produk, tahap evaluasi dan refleksi. Pembelajaran fisika berbasis proyek teknologi tepat guna (TTG) rancang bangun pompa air garam tenaga angin dapat meningkatkan ketrampilan hidup dan berkarir siswa dengan kriteria peningkatan yang signifikan.
Pembelajaran fisika berbasis proyek teknologi tepat guna (TTG) rancang bangun pompa air garam tenaga angin dapat menampilkan profil sikap ilmiah yang baik dan bertemali dengan tuntutan abad 21.
Pembelajaran fisika berbasis proyek teknologi tepat guna (TTG) rancang bangun pompa air garam tenaga angin dapat meningkatkan prestasi kognitif siswa dengan peningkatan yang tinggi.
Saran
Dalam penelitian ini produk pompa air tenaga angin yang diproduksi oleh siswa kelas XI mesin 4 hanya dinilai oleh guru dan diosen, maka perlu dilakukan penilaian oleh masyarakat petembak garam agar nilai yang didapatkan lebih objektif dan memiliki nilai kelayakan yang sesungguhnya.
DAFTAR PUSTAKA
- Addiin, I., Redjeki, T., & Ariani, S. R. D. (2014). Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Pada Materi Pokok Larutan Asam Dan Basa Di Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Karanganyar Tahun Ajaran 2013/2014. Jurnal Pendidikan Kimia, 3(4), 7-16.
- AFRIANA, J. 2017. PROJECT BASED LEARNING (PjBL). Jurnal Refleksi Edukatika. 7. (2).
- Arnyana, I. B. P. 2006. Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Inovatif pada pelajaran biologi terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa SMA. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, 3(6).
- Astuti, W. P., Prasetyo, A. P. B., & Rahayu, E. S. 2012. Pengembangan Instrumen Asesmen Autentik Berbasis Literasi Sains pada Materi Sistem Ekskresi. Lembaran Ilmu Kependidikan, 41(1).
- Arikunto, S. 2007. Prosedur Penelitian Suatu Pendeketan Praktek. Jakaarta: Rinek Cipta.
- Badan Pusat Statistik BPS, 2016. Berita Resmi Statistik. https://www.bps.go.id. (diakses 10 Desember 2016).
- Cano, J. L., Sáenz, M. J., & Cebollada, J. A. 1999. Project management interactive learning and project oriented learning organizations. In Global Production Management. 85-95. Springer US.
- CITRANNISSA, C. F. 2015. Eksperimen Strategi Pembelajaran Discovery Learning dan Project Based Learning terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah Delanggu Tahun Ajaran 2014/2015 (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
- Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Menengah Pertama. Buku saku. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMP, Ditjen Mandikdasmen, Depdiknas.
- Emalfida, E., Sarong, M. A., & Hasanuddin, H. 2016. Pemanfaatan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Project Based Learning (Pjbl) Terhadap Peningkatan Sikap Ilmiah Peserta Didik Mtss Alfurqan Bambi. Jurnal Edubio Tropika, 4(1).
- Garcia R.E., Messias Correia, R.C., J´unior, C.O., Brandi, A.C, Prates, J.M., 2015. Teaching and Learning Software Project Management: a hands-on approach. https://pdfs.semanticscholar.org/d54f/688a525c77fd28a963a8c6909b5066fca457.pdf. (diakses 12 Desember 2016).
- Herawati, O. D. P., Siroj, R. A., & Basir, M. D. 2010. Pengaruh pembelajaran problem posing terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas xi ipa sma negeri 6 palembang. Jurnal Pendidikan Matematika, 4(1), 70-80.
- Hikmaningsih, D. A., Aminah, N. S., & Surantoro, S. 2015, September. Upaya Meningkatkan Kemampuan Kognitif Tingkat Tinggi Pada Materi Suhu Dan Kalor Menggunakan Project Based Learning Di Kelas X MIA SMA Negeri 2 Surakarta. In PROSIDING: Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika (Vol. 6, No. 6).
- Hugerat, M. 2016. How Teaching Science Using Project-Based Learning Strateges Affects The Classroom Learning Environment. Learning Environments Research , 3 : 383–395.
- Hutapea, N. M. 2013. Peningkatan kemampuan penalaran, komunikasi matematis dan kemandirian belajar siswa SMA melalui pembelajaran generatif (Doctoral dissertation, Universitas Pendidikan Indonesia).
- Iwan Riya, H. 2013. Pengaruh Kompetensi Kerja dan Motivasi Kerja terhadap Kesiapan Kerja Siswa Kelas XII Program Studi Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK N 2 Yogyakarta (Doctoral dissertation, Fakultas Teknik).
- Jamaludin, D. N. 2013. Pengaruh Project Based Learning Terhadap Berpikir Kritis, Berpikir Kreatif dan Sikap Ilmiah Pada Materi Tumbuhan Biji (Doctoral dissertation, Universitas Pendidikan Indonesia).
- Kurniasih, I., & Sani, B. 2013. Impelmentasi Kurikulum 2013 Konsep & Penerapan. Surabaya: Kata Pena.
- Mastuti, E. 2005. Analisis faktor alat ukur kepribadian big five (adaptasi dari IPIP) pada mahasiswa suku jawa. Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, 7(3).
- Mayasari, T., Kadarohman, A., Rusdiana, D., & Kaniawati, I. 2016. Apakah Model Pembelajaran Problem Based Learning Dan Project Based Learning Mampu Melatihkan Keterampilan Abad 21?. Jurnal Pendidikan Fisika Dan Keilmuan (JPFK), 2(1), 48-55.
- Miura, M. 2015. Project Based Learning With Multi-Agent Simulation In Liberal Arts Education. 3rd International Conference On Applied Computing And Information Technology. 2nd international conference on computational science and intelligence. http://dl.acm.org/citation.cfm.id.2848985&picked.prox. (diakses 12 Desember 2016).
- Murti, K.E. 2013. Pendidikan Abad 21 Dan Implementasinya Pada Pembelajaran Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Untuk Paket Keahlian Desain Interior. Artikel Kurikulum 2013 SMK.
- Murti, K.E. 2015. Pendidikan Abad 21 Dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran Di SMK. Artikel www. Pendidikan Abad 21. (diakses 2 januari 2016).
- Ningsih, L. D., & Isnani, M. S. 2010. Studi Komparatif Tingkat Reliabilitas Tes Prestasi Hasil Belajar Matematika Pada Tes Bentuk Uraian Dengan Model Penskoran GPCM (generalized partial credit model) dan Penskoran GRM (graded response model). Cakrawala, 4(8).
- Nugraheni, P., & Subaweh, I. 2008. Pengaruh Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Terhadap Kualitas Laporan Keuangan. Jurnal Ekonomi Bisnis, 1(13), 49-50.
- Prayitno, W. 2009. Implementasi Project Based Learning Dalam Pembelajaran Abad 21 Pada Mata Pelajaran Ipa Kelas V SD N Jetis II Nglora. Best practice. http://lpmpjogja.org/wp-content/uploads/2015/04/Artikel-wendhi-Best-Practice-Implementasi-PBL-dalam-Pembelajaran-Abad-21.pdf. (diakses 12 februari 2017).
- Purnama, R. D. A., & Pribadi, B. A. 2014. Penilaian Performa Dalam Pembelajaran Sains. Jurnal Pendidikan, 15(1), 22-30.
- Purwanti, E. D. 2009. Pengaruh Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) Terhadap Perencanaan Karir Siswa Pasca Sekolah (Studi Pada Siswa Kelas 2 SMK Negeri 2 Kediri). SKRIPSI Jurusan Manajemen-Fakultas Ekonomi UM.
- Rahayu, E., Susanto, H., & Yulianti, D. 2011. Pembelajaran sains dengan pendekatan keterampilan proses untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kreatif siswa. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 7(2).
- Ramírez, R.J, Jiménez, S, Huertas, C. 2016. Developing Software Engineering Competences In Undergraduate Students: Project-Based Learning Approach In Academy-Industry Collaboration. 4th international conference in software engineering research and innovation.https://www.computer.org/csdl/proceedings/conisoft/2016/1074/00/1074a141. pdf. (diakses 12 Desember 2016).
- Rusilowati A, 2014. Pengembangan Instrumen Penilaian. Semarang: unnes pers.
- Sari, D.N, Sutikno, Masturi. 2015. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Kreativitas Siswa Melalui Elektroskop Sederhana. Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF2015 http://snf-unj.ac.id/kumpulan-prosiding/snf2015/; IV.
- Siti Lailatul, M. 2015. Peran dan Fungsi Bursa Kerja Khusus (BKK) sebagai Sarana Pemenuhan Tenaga Kerja bagi Siswa Kompetensi Keahlian Jasa Boga di SMK N 4 Yogyakarta, SMK N 6 Yogyakarta dan SMK N 2 Godean (Doctoral dissertation, UNY).
- Sofyan, H. 2006. IMPLEMETASI PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK PADA BIDANG KEJURUA. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 1(2).
- Statistik, B. P. 2009. Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2009. Available FTP: http://www. bps. go. id/brs_file/naker-01des09. pdf, diakses, 5.
- Sudjana, 2005. Metode statistika (Jilid6). Bandung : Tarsito.
- Suryowati, E, 2016. Ekonomi Makro. http://bisniskeuangan.kompas.com (diakses 12 Desember 2016).
- Sutrisno, H 2015. Bagaimana Project Based Learning Membentuk Sikap Saling Menghargai?. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika|“Peran Matematika dan Pendidikan Matematika Abad 21”. 1 (1). 209-216.
- Supriatna, M. 2017. Pengembangan Kecakapan Hidup Di Sekolah. https://Www.Academia.Edu/7231852/Pengembangan_Kecakapan_Hidup_Di_Sekolah.(Diakses 12 februari 2017)
- Tambunan, S. M. 2010. Hubungan antara kemampuan spasial dengan prestasi belajar matematika. Makara Hubs-Asia, 8(3).
- Tresnady, T & Hapsari, D.K. 2016. Bisnis Makro. http://www.suara.com. (diakses 12 Desember 2016).
- Wiyanto. 2008. Menyiapkan Guru Sains Mengembangkan Kompetensi Laboratorium. Semarang : UNNES PRESS.
- Zubaidah, S., & Malang, J. B. F. U. N. 2016. Keterampilan Abad ke 21: Keterampilan yang Diajarkan melalui Pembelajaran. In Makalah disampaikan pada Seminar Nasional dengan Tema Isu-Isu Strategis Pembelajaran MIPA Abad 21 di STKIP Perdana Katulistiwa Sintang






Komentar
Posting Komentar